Rumah Kebudayaan Dusun Tuo

- Sabtu, 23 Juli 2022 | 16:55 WIB
Arief Budiman, Pengagas RKDT
Arief Budiman, Pengagas RKDT

BENGKULU - Rumah Kebudayaan Dusun Tuo. Sudah semestinya kita mendaur ulang cara pandang dalam menghaydapi tindak-tanduk carut-marut dunia hari ini. Mendaur ulang diartikan sebagai suatu pengolahan ulang cara pikir dimana tidak menghilangkan kebiasaan yang sudah ada.

Kebiasaan-kebiasaan berpikir ini perlu ditinjau kembali nilai dasarnya, agar supaya kebiasaan tersebut tidak hanya sekedar relevan pada zaman, tetapi juga berguna untuk kemaslahatan dimasa yang akan datang. Kebiasaan itu tidak bisa kita rubah sebelum kita menyadari kebiasaan itu sendiri. Karena seringkali kebiasaan yang sehari-hari kita lakukan tidak kita sadari bahwa mungkin dari salah satunya terdapat kebiasaan buruk yang merugikan diri kita bahkan bisa merugikan orang banyak. Seperti menggosok gigi saja, selama ini kita melakukannya dengan menggesek sikat secara horizontal dan dengan gesekan yang kuat tanpa dasar pengetahuan, hanya mencontoh melihat dari bagaimana orang tua dan iklan ditelevisi saja.

Ternyata menurut para dokter gigi, menggosok gigi yang benar adalah dengan melakukan gesekan melingkar ada juga yang berpendapat dengan melakukan gesekan vertikal pada gigi dan tidak dengan menekan gigi terlalu keras agar supaya menjaga kesehatan enzim. Itu salah satu kebiasaan buruk yang dekat dengan kita tetapi karena tidak kita sadari sebagai kebiasaan buruk, kebiasaan itu tidak akan kita ubah. Lalu bagaimana bila ternyata bukan hanya pada diri kita adanya kebiasaan buruk itu, bagaimana bila kebiasaan buruk itu ada pada pendidikan formal kita? Ada pada sistem politik kita? Ada pada sistem ekonomi kita? Ada pada sistem sosial kita? Maka tidak salah bila hari ini kita sebagai generasi muda aktif menyuarakan pendauran ulang terhadap apa yang melekat pada bangsa kita hari ini.

 

Dimasa depan, orang yang menguasai banyak sumberdaya adalah orang-orang yang memiliki definisi baru tentang uang atau ekonomi. Teknologi dan Informasi dibuat sedemikian canggihnya untuk kemudian menguasai sumberdaya manusia lewat pendidikan, lewat sistem sosial, lewat sistem politik dan menguasai sumberdaya alam lewat sistem pasar dan sebagainya, lalu penguasaan itulah yang nanti dikapitalisasi oleh beberapa orang saja yang selama ini menjadi dalang atas kekuasaan dunia atau kekuasaan uang. Dilansir tempo.co mengenai laporan terbaru Oxfam yang menunjukkan bahwa kekayaan 26 orang terkaya didunia setara dengan yang dimiliki separuh warga dunia yang paling miskin menjelang pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss 2019.

"Orang-orang di berbagai penjuru dunia marah dan frustrasi," kata Direktur Eksekutif Oxfam Winnie Byanyima. Lalu, pertanyaannya adalah apakah kita akan mengejar menjadi orang-orang kaya kecil untuk menguasai saudara-saudara kita? Apakah masih ada sisi kehidupan yang lain yang masih bisa kita upayakan?

 

Mulanya Indonesia berdiri sebagai suatu negara melupakan pilar Keraton-keraton, Kebudayaan, dan Adat. Indonesia berdiri tanpa menghitung ini, konstitusinya, sistemnya dan filosofinya. Padahal Inggris, Prancis, Belanda, Denmark, Spanyol, Thailand dan seterusnya, mereka membikin negara dengan transformasi berangkat dari akar kerajaan dan kebudayaan mereka. Kita sendiri telah berumur berabad ratusan bahkan ribuan tahun lebih tua jauh sebelum dunia yunani kuno, cina kuno, mesir kuno, tetapi tata buku dunialah yang tidak mencatat nusantara kuno.

Bahkan kita lebih memilih ikut kepada bocah kemarin sore Amerika dan anteknya seperti negara, modernitas, demokrasi, sebagai suatu tatanan nilai baru melupakan ajaran leluhur kita. Tentu kita tidak ingin kembali pada kerajaan yang feodalistik, tapi apakah tatanan yang sekarang ini jauh lebih baik? Kita kehilangan arah kedepan sebagai suatu bangsa. Kita tidak tahu mau dibawa kemana seperti apa bangsa ini kedepan. Kita akan titipkan anak cucu kita kepada zaman yang seperti apa itu adalah tugas kita. Memang tidak banyak yang bisa kita lakukan karena tidak mudah berenang ketepian lautan. Tetapi kita masih bisa mempelajari, mencari, meneliti bagaimana leluhur kita hidup beribu-ribu tahun memimpin dunia.

Halaman:

Editor: Andi Hartono

Tags

Terkini

Apalagi Alasan Tidak Kuliah

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:55 WIB

Presidium MD KAHMI Bengkulu Utara Terpilih

Sabtu, 23 Juli 2022 | 20:10 WIB

Rumah Kebudayaan Dusun Tuo

Sabtu, 23 Juli 2022 | 16:55 WIB

Zacky; Kader harus Miliki Tiga Kecerdasan

Minggu, 10 Juli 2022 | 21:20 WIB

Ikatan Keluarga Kedurang Berbagi Sembako Ramadhan

Minggu, 24 April 2022 | 16:15 WIB

Rasa Sakit

Kamis, 31 Maret 2022 | 13:35 WIB

Terpopuler

X